Bagaimana Perkembangan Pertunjukan Wayang di Era Modern




Apa Itu Wayang?
 
Wayang bukan hanya pagelaran yang bersifat menghibur saja, tetapi juga sarat akan nilai-nilai falsafah hidup. Di dalam cerita wayang, setiap tokohnya merupakan refleksi atau representasi dari sikap, watak, dan karakter manusia secara umum. Sehingga tak mengherankan pada masa walisanga, wayang dijadikan sebagai sarana dakwah. Wayang merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling popular diantara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang yang semakin berkembang merupakan media penerangan, media dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta sebagai hiburan.

Bagaimana Perkembangan Wayang?
 
Dengan semakin berkembangnya seni pertunjukan wayang di Indonesia, ternyata juga muncul pro dan kontra. Seni pertunjukan wayang yang sebelumnya sebagai seni fungsional atau seni masyarakat berubah menjadi bentuk komersial dan menjadi barang dagangan yang mempunyai nilai ekonomi. Sedangkan isi atau nilai-nilai dalam karya seni yang berhubungan dengan kerohanian bergeser atau diganti oleh zaman modern.

Walaupun terdapat pro dan kontra dalam perkembangan wayang di Indonesia, dan semakin berkurangnya kepedulian generasi masa sekarangterhadap eksistensi wayang. Namun harus diakui wayang masih sebagai salah satu seni pertunjukan yang paling menonjol di Indonesia. Hingga saat ini wayang telah berkembang menjadi beragam variasi pertunjukan wayang. 
Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis-jenis wayang itu tetap menggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Jika pada masa klasik wayang hanya terdapat beberapa varian, pada masa modern ini berkembang menjadi bermacam-macam varian. Yang isisnya pun tidak hanya berupa nilai-nilai kerohanian, namun berkembang mengikuti perkembangan jaman.
Pada perkembangan pewayangan periode modern, bermunculan wayang-wayang jenis baru seperti wayang suluh, wayang wahyu, wayang gedog, dan wayang kancil. Bermunculannya wayang-wayang jenis baru ini membawa suatu iklim baru di dalam dunia pewayangan. Seni pertunjungan wayang yang tadinya hanya dalam lingkup Mahabarata dan Ramayana, menjadi semakin bervariasi. Contohnya adalah wayang suluh dan wayang pancasila yang menceritakan perjuangan bangsa. Yang menampilkan para pahlawan nasional sebagai lakon dalam pertunjukan wayang tersebut. 
Perkembangan wayang di Indonesia tidak serta merta berasal dari kisah asli Indonesia . pada masa modern ini juga berkembang pertunjukan waayang yang bersumber dari kisah-kisah yang berasal dari luar Indonesia. Wayang tersebut dikenal sebagai wayang potehi, yang merupakan wayang yang menceritakan kisah-kisah yang berasal dari dataran Cina. 

Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat, misalnya Wayang Kulit Purwa, yang berkembang pula pada ragam kedaerahan menjadi Wayang Kulit Purwa khas daerah, seperti Wayang Cirebon, Wayang Bali, Wayang Betawi, Wayang Banjar, dan lain sebagainya.
Kesenian wayang sendiri sempat mengalami masa keterpurukan pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942 sampai 1945. Akan tetapi penyebab utama keterpurukan budaya wayang adalah pada keadaan ekonomi yang terpuruk, hal ini menyebabkan tidak ada orang yang mempunyai dana untuk menyelenggarakan wayang. Akibat dari keterpurukan ekonimi ini akhirnya sebagian dalang terpaksa beralih profesi. ,melihat kesenian wayang yang mulai surut, usaha pelestarian kesenian wayang  pun dilakukan antara lain dengan pembentukan organisasi-organisasi. Selain itu setiap lima tahun sekali menyelenggarakan Pekan Wayang Indonesia, dengan kegiatan utama Kongres Sena Wangi, pagelaran wayang, pameran dan dunia pewayangan.
Berikut Jenis-jenis wayang di era modern
1     1. Wayang Kulit Purwa
2     2.  Wayang Klitik
       3. Wayang Orang/wong
4     4.Wayang Gedog
       5. Wayang Golek
       6. Wayang Golek Menak
       7. Wayang Suket
8     8.Wayang Suluh
9     9.Wayang Pancasila
1    10.Wayang Potehi



0 Komentar